Buah lara mengembang luka
Hati digenangi gundah gulana
Tuhan seolah tak mengindahkan pinta
Menggantung doaku di tengah gelimang asa
Tak penuh kemungkinan untuk bersama
Restu orang tua menjadi palu pematah
Menikam lamar dengan tolak membahana
Mengharap renggang menunggu pisah
Entah dengan cara apa lagi harus kupertahan cinta
Aku berjuang namun tak pernah dihiraukannya
Diri ini hanya tinggal nama
Sebab keberadaan yang tak pernah dibaca
Sedih menggempur
Melebur bahagia yang tumbuh subur
Ragaku perlahan tersungkur
Tercebur dalam jurang kepedihan yang tak lagi terukur
Ada pria lain yang lebih masyhur
Tidak sepertiku yang hanya memiliki doa berlumur
Mengulur tangan pada sang Pemilik Luhur
Di garis lara yang tak pernah meluntur
Aku sadar, apa dan siapa diriku
Jika restu tak dapat kau ucap merdu
Maka izinkan aku untuk merindu
Biarkan doaku memeluk putrimu di sepertiga malam yang kelabu
Hanya itu yang bisa kulakukan setelah ini
Memohon kebahagiaan untuk putrimu yang telah bersuami
Walau kecewa tak dapat kupungkiri
Putrimu tetaplah ratu di ruang hati
Ia tidak akan pernah terganti
Sampai maut membawa sukmaku menghadap Ilahi
Jika tak dapat restu dari calon mertua, berdoalah.
Dan jika masih tak direstui, cobalah bersandar diri.
Tanyakan padaku ada dirimu sendiri, Apa dan siapa Aku ini?”

Bagus
ReplyDelete