Masa Depan Yang Muram

Dengarkanlah kawan...
Curahan hatiku yang sedang lebam
Bagaimana dia patah secara perlahan
Akibat ayah bunda yang tak menjumpa damai

Mungkin ini bukan puisi
Tapi aku ingin kalian sedikit memahami
Temanilah aku di beranda sepi
Saat ayah dan bundaku berhilang kasih

Tubuh ini kehilangan pondasi
Penyemangat kokoh yang dulu menguatkan tak ada lagi
Aku benar-benar di ujung frustasi
Tak tau mau kemana lagi harus kulangkahkan kaki

Aku menjadi korban keegoisan 
Ayah bunda seakan tak menghiraukan
Entah buat apa aku dibesarkan
Jika mereka tak menjanjikan masa depan

Masa depanku hancur
Melebur di tengah sedih berlumpur
Nyawaku seakan menghambur
Meninggalkan daksa yang kini tersungkur

Ayah, Bunda, kau anggap anakmu ini apa?
Rumah yang semestinya kurasa surga hanya tinggal asa
Aku seakan hidup di cengkraman neraka
Hatiku terbakar, hancur melebur tanpa sisa

Hari raya tak mengundang senyum
Diriku tetap berbaur dalam jurang kepedihan
Gemaan takbir tak lebih dari sekedar kidung
Mengiringi rinai air mata yang semakin menggunung


Comments