Menyesakkan dada mengundang lara.
Sebaris kata tak sanggup menjelaskan seberapa berat rindu ini menyiksa.
Rindu yang terus memaksa untuk kembali ke masa yang sekarang telah tertulis dalam buku sejarah.
Entah seberapa bait prosa yang harus aku tulis, untuk menuturkan sepucuk rindu yang tidak pernah tertulis.
Seberapa shaf rima yang harus aku baca, untuk mengobati duka lara yang terus menyiksa.
Sungguh masalalu yang indah.
Masa di mana bunga asmara masih bermekaran di taman hati kita.
Dan sekarang semua itu hanya tinggal sepotong kisah yang ingin dinostalgia.
Hati merindu masalalu tatkala wanita kecilku hidup di masa itu.
Menunduk malu karena kusuguhkan setangkai bunga berwarna ungu.
Dan tersenyum kaku ketika kutempelkan keningnya di ujung bibirku yang basah.
Comments
Post a Comment